Sobat Flexy, sebagai pemilik usaha, pernahkah kamu menemukan kemasan produk yang tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa secara jelas, hanya barcode yang tercetak di sana? Atau kamu masih bingung cara cek expired date dari barcode? Padahal, masalah seperti ini menyangkut kepercayaan konsumen, keamanan produk, hingga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Lalu apakah expired date bisa dicek langsung dari barcode yang tercetak pada kemasan? Artikel ini akan membahas secara tuntas cara cek expired date dari barcode, format pencantuman tanggal yang berlaku, hingga peran penting kemasan dalam menyampaikan informasi tersebut secara akurat kepada konsumen.
Apa Itu Barcode dan Kaitannya dengan Expired Date?

Sobat Flexy, secara sederhana barcode adalah representasi visual data yang mesin dapat baca secara otomatis, baik dalam bentuk kombinasi garis vertikal (1D) maupun pola titik dan kotak seperti QR code (2D). Dalam kemasan produk, produsen umumnya menggunakan barcode untuk menyimpan informasi seperti kode produk, harga, produsen, hingga nomor batch.
Masalah expired date pada kemasan sering kali bukan berasal dari kesalahan produksi, melainkan karena faktor teknis pada kemasan itu sendiri. Berikut beberapa kesalahan yang perlu kamu hindari:
- Posisi cetak yang kurang tepat: produsen mencetak expired date di area lipatan atau sambungan kemasan sehingga konsumen kesulitan membacanya.
- Tinta luntur atau tidak tahan kondisi penyimpanan: kemasan yang terpapar kelembapan tinggi, sinar UV, atau suhu ekstrem rentan membuat tinta luntur. Selain itu, material kemasan yang tidak kompatibel dengan jenis tinta (inkjet/laser) akan mempercepat kerusakan tulisan.
- Format tanggal membingungkan: penulisan seperti “260831” tanpa keterangan format membuat konsumen bingung apakah itu tanggal produksi atau kedaluwarsa.
- Ukuran font terlalu kecil: BPOM mensyaratkan keterbacaan informasi wajib pada label, font yang terlalu kecil tidak hanya menyulitkan konsumen, tetapi juga berpotensi melanggar regulasi yang berlaku.
Kesimpulan
Pada akhirnya, cara cek expired date dari barcode bergantung pada jenis barcode yang produsen gunakan pada kemasan produk. Sebagai ringkasan, barcode EAN-13 tidak menyimpan data expired date, sementara GS1-128 dan QR Code dapat memuatnya jika produsen mengonfigurasinya dengan benar.
Namun, bagi pelaku usaha, hal terpenting bukan hanya memahami cara membaca barcode, tetapi juga memastikan expired date tercantum dengan benar, mudah dibaca konsumen, dan tahan terhadap kondisi distribusi maupun penyimpanan. Inilah mengapa kualitas kemasan memainkan peran yang sangat krusial dalam menjaga akurasi informasi produk hingga sampai ke tangan konsumen.




Artikel ini sangat membantu! Saya selama ini bingung kenapa expired date di kemasan produk saya sering tidak terbaca jelas. Ternyata ada kaitannya dengan jenis tinta dan material kemasan. Makasih banyak, Flexy!
Halo Kak Rina! Senang bisa membantu 😊 Kalau kamu butuh rekomendasi material label yang tahan lama, jangan ragu untuk konsultasi gratis dengan tim kami ya!
Pertanyaan: kalau produk saya menggunakan barcode EAN-13, berarti saya tetap harus mencetak expired date secara terpisah di label, bukan bisa di-encode-nya ya? Minta konfirmasi dong.
Betul sekali, Kak Budi! EAN-13 hanya menyimpan kode produk, jadi expired date wajib dicetak secara terpisah di label. Bisa pakai format GS1-128 kalau ingin data expire terintegrasi di barcode.
Nah ini yang saya cari-cari! Kemarin ada konsumen komplain karena label sirup produksi saya susah dibaca tanggal kedaluwarsanya. Sepertinya material dan jenis tintanya perlu saya evaluasi lagi. Terima kasih, sangat membantu!
Artikelnya informatif. Tapi saya masih bingung soal format tanggal yang BPOM rekomendasikan. Apakah ada panduannya yang bisa diakses?